Sejarah Singkat Kehidupan Chairul Tanjung
Riwayat Pendidikan Berikut selengkapnya latar belakang pendidikan seorang Chairul Tanjung.
SD Van Lith, Jakarta (1975)
SMP Van Lith, Jakarta (1978)
SMA Negeri I Boedi oetomo, Jakarta (1981)
Fakultas Kedokteran Gigi, Universitas Indonesia (1987)
Executive IPPM (MBA; 1993)
Kisah Hidup Perjalan Chairul Tanjung Si Anak Singkong telah ditulis dalam sebuah buku yang berjudul “si anak singkong” buku ini mengisahkan tentang perjalanan hidup Chairul Tanjung dari kecil hingga sukses seperti saat ini. Buku setebal 360 halaman yang diterbitkan Penerbit Buku Kompas (PBK) ini disusun oleh wartawan Kompas Tjahja Gunawan Adiredja. Buku ini diberi kata pengantar oleh Jakob Oetama, Pendiri dan Pemimpin Umum Harian Kompas,
Menurut saya buku ini sangatlah inspiratif dan penting sekali untuk kita baca. Penuturan cerita yang apa adanya membuat jauh dari kesan berlebihan atau mendramatisir keadaan. Berbagai kisah yang membuat saya tergetar haru dan speechless.
Buku yang merupakan kisah perjalanan hidup seorang pengusaha sukses di negeri ini. Chairul Tanjung, adalah pemilik beberapa perusahaan besar seperti stasiun televisi swasta ( Trans TV), Trans Studio, hotel, bank, dan terakhir kabarnya menjadi salah salah satu pembeli 10% saham perusahaan penerbangan papan atas Indonesia ( Garuda ) dsb dll.
Untuk menuliskan ekstrak sebuah buku setebal 384 halaman tentu tidak cukup mudah. Namun di sini saya ingin berbagi sedikit kisah yang semoga bermanfaat bagi Anda yang belum sempat membaca buku tersebut ( sejujurnya, saya berharap sahabat semua menyempatkan untuk membacanya suatu saat nanti). Maka, saya coba menuangkan beberapa kenangan masa kanak-kanak hingga masa kuliah saja, segera setelah saya selesai membacanya, hari ini.
Chairul Tanjung kecil melalui hari-hari penuh keceriaan sebagai anak pinggiran kota Metropolitan. Bermain bersama teman-teman dengan membuat pisau dari paku yang digilaskan di roda rel dekat rumahnya di Kemayoran, adalah kegiatan seru yang menyenangkan. Juga bersepeda beramai-ramai di akhir pekan ke kawasan Ancol, sambil jajan penganan murah, buah lontar.
Kelas 1 hingga kelas 2 SD sekolah diantar jemput oleh Kak Ana, seorang sanak keluarga dari Sibolga, dengan naik oplet. Selanjutnya kelas 3 SD sudah bisa pulang-pergi sekolah sendiri.
Saat usia SMP, Bapaknya ( Abdul Gafar Tanjung ) yang saat itu telah mempunyai percetakan, koran, transportasi dll gulung tikar dan dinyatakan pailit oleh pemerintah karena idealismenya yang bertentangan dengan pemerintah yang berkuasa saat itu ( Soeharto). Sang ayah adalah Ketua Partai Nasional Indonesia (PNI) Ranting Sawah Besar. Semua koran Bapaknya dibredel. Semua aset dijual hingga tak memiliki rumah satu pun.
Mungkin demi gengsi, di awal-awal, Bapaknya menyewa sebuah losmen di kawasan Kramat Raya, Jakarta untuk tinggal mereka sekeluarga. Hanya satu kamar, dengan kamar mandi di luar yang kemudian dihuni 8 orang. Kedua orang tua Chairul, dan 6 orang anaknya, termasuk Chairul sendiri.
Tidak kuat terus-menerus membayar sewa losmen, mereka kemudian memutuskan pindah ke daerah Gang Abu, Batutulis. Salah satu kantong kemiskinan di Jakarta waktu itu. Rumah tersebut adalah rumah nenek Chairul, dari ibundanya, Halimah.
Ibunya adalah sosok yang jarang sekali mengeluhkan kondisi, sesulit apapun keadaan keluarga. Namun saat itu, Chairul melihat raut wajah ibunya sendu, tidak ceria dan tampak lelah. Setelah ditanya, lebih tepatnya didesak Chairul, Ibunya baru berucap : ”Kamu punya sedikit uang, Rul? Uang ibu sudah habis dan untuk belanja nanti pagi sudah tidak ada lagi. Sama sekali tidak ada”.
( Tidak diceritakan lebih jelas akhirnya mendapat solusi dari mana, namun kita bisa tahu bahwa di usia SMP, Chairul sudah menyadari bagaimana kesulitan orang tuanya, bahkan untuk makan sehari-hari. Dan Ibunya adalah sosok yang sangat tabah menjalani kerasnya kehidupan).
Setamat kuliah, Chairul berekan dengan orang lain dalam membangun sebuah pabrik sepatu. Setelah 3 bulan awal dimulainya pabrik tersebut dilalui dengan terlunta-lunta dengan tanpa pesanan. Disaat pabrik terancam bangkrut, datanglah pesanan sendal dari luar negeri sejumlah 12.000 pasang dengan estimasi 6.000 pasang dikirim awal. Dan berubahlah pabrik tersebut dari pabrik sepatu menjadi pabrik sendal. Saat melihat hasil kerja pabrik tersebut, pihak pemesan merasa tertarik dan langsung melakukan pesanan kembali bahkan mencapai angka 240.000 pasang padahal yang awalnya 12.000 pasang tadi masih 6.000 pasang yang dikirim. Mulailah pabrik tersebut berkembang. Setelah beberapa lama akhirnya Chairul memutuskan berhenti berekan dan mulai membangun bisnis dengan modal pribadi dan menjelma menjadi pengusaha yang mandiri.
Pada tahun 1994, Chairul resmi meminang gadis pujaannya yaitu Anita yang juga merupakan adik kelasnya sewaktu kuliah. Dan pada tahun 1996, Chairul memperoleh berkah yang berlimpah karena pada tahun tersebut lahirlah anak pertamanya dan bersamaan dengan diputuskannya Chairul sebagai pemilik dari Bank Mega.
Chairul Tanjung dikenal sebagai pengusaha yang agresif, ekspansi usahanya merambah segala bidang, mulai perbankan dengan bendera Bank Mega Group, pertelivisian Trans TV dan Trans 7,hotel dengan bendera The Trans, di bidang supermarket, CHAIRUL TANJUNG (panggilan akrab Chairul Tanjung) mengakuisisi Carrefour, pesawat terbang, hingga bisnis hiburan TRANS STUDIO, dan bisnis lainnya.
Riwayat kehidupan Chairul Tanjung kecil bisa dikatakan terlahir dari keluarga cukup berada kala itu. Dia mempunyai enam saudara kandung. A.G. Tanjung, ayahnya, adalah mantan wartawan pada era Orde Lama dan pernah menerbitkan surat kabar dengan oplah kecil.
Namun, ketika terjadi pergantian era pemerintahan, usaha ayahnya itu tutup karena ayahnya mempunyai pemikiran yang berseberangan dengan penguasa politik saat itu. Keadaan tersebut memaksa kedua orang tuanya menjual rumah dan harus rela menjalani hidup seadanya. Mereka pun kemudian menyewa sebuah losmen dengan kamar-kamar yang sempit.
Kondisi ekonomi keluarganya yang sulit membuat orang tuanya tidak sanggup membayar uang kuliah Chairul yang waktu itu hanya sebesar Rp75.000. “Tahun 1981 saya diterima kuliah di Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia (UI). Uang masuk ini dan itu total Rp75.000. Tanpa saya ketahui, secara diam-diam ibu menggadaikan kain halusnya ke pegadaian untuk membayar uang kuliah,” katanya lirih.
Melihat pengorbanan sang ibu, ia lalu berjanji tidak ingin terus-menerus menjadi beban orang tua. Sejak saat itu, ia tidak akan meminta uang lagi kepada orang tuanya. Ia bertekad akan mencari akal bagaimana caranya bisa membiayai hidup dan kuliah.
CHAIRUL TANJUNG pria kelahiran Jakarta, 18 Juni 1962 pada awalnya memulai bisnis kecil-kecilan. Dia bekerjasama dengan pemilik mesin fotokopi, dan meletakkannya di tempat strategis yaitu di bawah tangga kampus. Mulai dari berjualan buku kuliah stensilan, kaos, sepatu, dan aneka barang lain di kampus dan kepada teman-temannya. Dari modal usaha itu, ia berhasil membuka sebuah toko peralatan kedokteran dan laboratorium di daerah Senen Raya, Jakarta. Sayang, karena sifat sosialnya – yang sering memberi fasilitas kepada rekan kuliah, serta sering menraktir teman – usaha itu bangkrut.
Memang terbilang terjal jalan yang harus ditempuh Chairul Tanjung sebelum menjadi orang sukses seperti sekarang ini. Kepiawaiannya membangun jaringan bisnis telah memuluskan perjalanan bisnisnya. Salah satu kunci sukses dia adalah tidak tanggung-tanggung dalam melangkah.
Menurut penuturan Chairul, gedung tua Fakultas Kedokteran UI dulu belum menggunakan lift. Dari lantai satu hingga lantai empat masih menggunakan tangga. Lewat ruang kosong di bawah tangga ini, Chairul muda melihat peluang yang bisa dimanfaatkannya untuk menghasilkan uang.
“Nah, kebetulan ada ruang kosong di bawah tangga. Saya lalu berpikir untuk bisa memanfaatkannya sebagai tempat fotokopi. Tapi, masalahnya, saya tidak mempunyai mesin fotokopi. Uang untuk membeli mesin fotokopi pun tidak ada,” tuturnya.
Dia pun lantas mencari akal dengan mengundang penyandang dana untuk menyediakan mesin fotokopi dan membayar sewa tempat. Waktu itu ia hanya mendapat upah dari usaha foto kopi sebesar Rp2,5 per lembar. “Sedikit ya. Tapi, karena itu daerah kampus, dalam hal ini mahasiswa banyak yang fotokopi, maka jadilah keuntungan saya lumayan besar,” katanya sambil melempar senyum.
Tidak hanya sampai di situ, ia pun terus berusaha mengasah kemampuannya dalam berbisnis. Usaha lain, seperti usaha stiker, pembuatan kaos, buku kuliah stensilan, hingga penjualan buku bekas dicobanya. Usai menyelesaikan kuliah, Chairul memberanikan diri menyewa kios di daerah Senen, Jakarta Pusat, dengan harga sewa Rp1 juta per tahun.
Kios kecil itu dimanfaatkannya untuk membuka CV yang bergerak di bidang penjualan alat-alat kedokteran gigi. Sayang, usaha tersebut tidak berlangsung lama karena kios tempat usahanya lebih sering dijadikan tempat berkumpul teman-temannya sesama aktivis. “Yang nongkrong lebih banyak ketimbang yang beli,” kata mahasiswa teladan tingkat nasional 1984-1985 ini.
Selang berapa tahun, ia mencoba bangkit dan melangkah lagi dengan menggandeng dua temannya mendirikan PT Pariarti Shindutama yang memproduksi sepatu.
Ia mendapatkan kredit ringan dari Bank Exim sebesar Rp150 juta. Kepiawaiannya membangun jaringan bisnis membuat sepatu produksinya mendapat pesanan sebanyak 160.000 pasang dari pengusaha Italia.
Bisnisnya terus berkembang. Ia mulai mencoba merambah ke industri genting, sandal, dan properti. Namun, di tengah usahanya yang sedang merambat naik, tiba-tiba dia terbentur perbedaan visi dengan kedua rekannya. Ia pun memutuskan memilih mundur dan menjalankan sendiri usahanya.
Memang tidak jaminan, seseorang yang berkarier sesuai dengan latar belakang pendidikannya akan sukses. Kenyataannya tidak sedikit yang berhasil justru setelah mereka keluar dari jalur.
“Modal dalam usaha memang penting, tapi mendapatkan mitra kerja yang andal adalah segalanya. Membangun kepercayaan sama halnya dengan membangun integritas dalam menjalankan bisnis,” ujar Chairul Tanjung yang lebih memilih menjadi seorang pengusaha ketimbang seorang dokter gigi biasa.
Dan pilihannya untuk menjadi pengusaha menempatkan Chairul Tanjung sebagai salah satu orang terkaya di Indonesia dengan total kekayaan mencapai 450 juta dolar AS. Sebuah prestasi yang mungkin tak pernah dibayangkannya saat memulai usaha kecil-kecilan, demi mendapat biaya kuliah, ketika masih kuliah di UI dulu.
Hal itulah yang barangkali membuat Chairul Tanjung selalu tampil apa adanya, tanpa kesan ingin memamerkan kesuksesannya. Selain itu, rupanya ia pun tak lupa pada masa lalunya. Karenanya, ia pun kini getol menjalankan berbagai kegiatan sosial. Mulai dari PMI, Komite Kemanusiaan Indonesia, anggota Majelis Wali Amanat Universitas Indonesia dan sebagainya. “Kini waktu saya lebih dari 50% saya curahkan untuk kegiatan sosial kemasyarakatan,” ungkapnya.
Kini Grup Para mempunyai kerajaan bisnis yang mengandalkan pada tiga bisnis inti. Pertama jasa keuangan seperti Bank Mega, Asuransi Umum Mega, Aanya yaitu bisnis televisi, TransTV. Pada bisnis pertelevisian ini, ia juga dikenal berhasil mengakuisisi televisi yang nyaris bangkrut TV7, dan kini berhasil mengubahnya jadi Trans7 yang juga cukup sukses.
Langkah ekspansi selanjutnya adalah mendirikan perusahaan patungan dengan mantan wapres Jusuf Kalla membentuk taman wisata terbesar “TRANS STUDIO” di Makassar, untuk menyaingi keberadaan Universal Studio yang ada di Singapura. Taman hiburan dalam ruangan terbesar di Indonesia inipun sekarang telah merambah kota Bandung, dan sebentar lagi kota-kota besar di Indonesia lainnya.
Chairul merupakan salah satu dari tujuh orang kaya dunia asal Indonesia. Dia juga satu-satunya pengusaha pribumi yang masuk jajaran orang tajir sedunia. Enam wakil Indonesia lainnya adalah Michael Hartono, Budi Hartono, Martua Sitorus, Peter Sondakh, Sukanto Tanoto dan Low Tuck Kwong.
Berkat kesuksesannya itu Majalah Warta Ekonomi menganugerahi Pria Berdarah Minang/Padang sebagai salah seorang tokoh bisnis paling berpengaruh di tahun 2005 dan Dinobatkan sebagai salah satu orang terkaya di dunia tahun 2010 versi majalah Forbes dengan total kekayaan $1 Miliar.
ANALISIS TOKOH CHAIRUL TANJUNG DENGAN MENGGUNAKAN TEORI KEPRIBADIAN GEORGE KELLY
Construk yang kuat pada ct untuk mandiri mulai muncul saat keadaan ekonomi keluarganya jatuh, dan saat ia diterima di fakultas kedokteran UI ia mengetahui bahwa ibunya menggadaikan kain halus yang dimilikinya untuk membayar uang kuliahnnya. Sejak saat itu chairul atau yang akrab dipanggil CT ini berjanji tidak ingin terus-menerus menjadi beban orang tua. Sejak saat itu, ia tidak akan meminta uang lagi kepada orang tuanya. Ia bertekad akan mencari akal bagaimana caranya bisa membiayai hidup dan kuliah.
Karena hal ini ct mulai merubah konstruk pribadinya yang sebelumnya hidup bergantung pada orang tuanya, tetapi karena kebangrutan yang dialami ayahnya ia membentuk konstruk pibadinya menjadi pribadi yang mandiri yang tidak ingin membebani orang tuanya.
Menurut george kelly dalam personal construk theory mengatakan bahwa setiap manusia adalah scientist Sepanjang hidupnya, manusia berusaha untuk memahami dunia seperti hal-nya seorang ilmuwan (generate & test hypotheses about the way the world works)
Pada saat kuliah CT terus menerus mengembagkan construk Menurut penuturan Chairul, gedung tua Fakultas Kedokteran UI dulu belum menggunakan lift. Dari lantai satu hingga lantai empat masih menggunakan tangga. Lewat ruang kosong di bawah tangga ini, Chairul muda melihat peluang yang bisa dimanfaatkannya untuk menghasilkan uang. Ia juga memiliki konstruk bahwa ia dapat mendirikan usaha walaupun tanpa modal pribadi. Lalu ia mengundang penyandang dana untuk menyediakan mesin fotokopi dan membayar sewa temapt. CT kemudian mendapat upah dari pekerjaanya terebut dan mengembangkan usaha lain seperti usaha stiker, pembuatan kaos, buku kuliah stensilan, hingga penjualan buku bekas.
Karena alternative konstruk yang diciptaknnya tentang ruang kosong dibawah tangga itu adalah peluang untuk menghasilkan uang maka ia berhasil mengumpulkan modal untuk membuka CV yang beregerak dibidang kedokteran. Kios kecil itu dimanfaatkannya untuk membuka CV yang bergerak di bidang penjualan alat-alat kedokteran gigi. Sayang, usaha tersebut tidak berlangsung lama karena kios tempat usahanya lebih sering dijadikan tempat berkumpul teman-temannya sesama aktivis. “Yang nongkrong lebih banyak ketimbang yang beli,” kata mahasiswa teladan tingkat nasional 1984-1985 ini.
Namun tidak selalu construk yang dimiliki CT didefinisikan dengan jelas, konsruknya tentang membuka usaha untuk bergerak didang penjualan alat-alat kedokteran itu gagal. Sehingga ia harus memperbaiki, memodifikasi mengelaborasi lagi konstruknya.
Menurut Kelly,
• Manusia mengembangkan berbagai construct sepanjang hidupnya Construct yang sudah ada dapat diperbaiki, dimodifikasi atau dielaborasi karena manusia dan peristiwa selalu berubah dari waktu ke waktu
• Tidak ada construct yang final/ absolut
• Constructive alternativism: Manusia tidak diperbudak construct yang sudah terbentuk. Manusia bebas untuk memperbaiki atau mengganti construct-nya
CT mulai bangkit kembali membentuk konstruk untuk menggandeng dua temannya mendirikan PT Pariarti Shindutama yang memproduksi sepatu.Ia mendapatkan kredit ringan dari Bank Exim sebesar Rp150 juta. Kepiawaiannya membangun jaringan bisnis membuat sepatu produksinya mendapat pesanan sebanyak 160.000 pasang dari pengusaha Italia.Bisnisnya terus berkembang. Ia mulai mencoba merambah ke industri genting, sandal, dan properti. Namun, di tengah usahanya yang sedang merambat naik, tiba-tiba dia terbentur perbedaan visi dengan kedua rekannya. Ia pun memutuskan memilih mundur dan menjalankan sendiri usahanya.
Karena adanya perbedaan konstruk dengan rekannya tentang visi usaha yang mereka geluti membuat ct memutuskan memilih mundur dan menjalankan sendiri usahanya.
kelly memandang tentang dua orang yang mengalami peristiwa yang sama memiliki interpretasi yang berbeda tentang hal/peristiwa yang sama itu, ia berasumsi bahwa
Tiap individu memakai serangkaian konstruk yang berbeda untuk mengevaluasi peristiwa itu
Dua orang individu mungkin menggunakan konstruk yang hampir sama pada satu segi, tapi tidak pada segi lainnya.
Hal ini sesuai dengan perbedaan konstruk dengan rekannya tentang visi usaha yang mereka geluti dan akhirnya membuat ct memutuskan memilih mundur dan menjalankan sendiri usahanya.
CT terus menerus mengubah, memperbaiki atau mengelaborasi konstruk yang ia miliki misalnya yang pada awal ia berkuliah di fakultas kedokteran ia memiliki konstruk bahwa akan sukses dengan menjdi seorang dokter gigi. Tetapi kemudian diawali dari kebangkrutan yang dialami ayahnya ia merubah konstruknya untuk menjadi seorang wirausahawan muda, CT mengatakan “Memang tidak jaminan, seseorang yang berkarier sesuai dengan latar belakang pendidikannya akan sukses. Kenyataannya tidak sedikit yang berhasil justru setelah mereka keluar dari jalur”.
Dan construk yang dipilihnya untuk menjadi pengusaha menempatkan CT sebagai salah satu orang terkaya di Indonesia dengan total kekayaan mencapai 450 juta dolar AS. Sebuah prestasi yang mungkin tak pernah dibayangkannya saat memulai usaha kecil-kecilan, demi mendapat biaya kuliah, ketika masih kuliah di UI dulu.
“Modal dalam usaha memang penting, tapi mendapatkan mitra kerja yang andal adalah segalanya. Membangun kepercayaan sama halnya dengan membangun integritas dalam menjalankan bisnis,” ujar ct yang lebih memilih menjadi seorang pengusaha ketimbang seorang dokter gigi biasa.
George kelly mengatakan dalam salah satu fundamental postulatnya “Walaupun manusia selalu berubah, tetap ada stabilitas tertentu dalam perilaku manusia karena ia bekerja melalui suatu jaringan”
Ia memiliki konstruk bahwa memiliki mitra kerja yang handal, membangun kepercayaan adalah segala dalam berbisnis dan dalam menjalankan suatu pekerjaan. CT juga selalu tampil apa adanya tanpa adanya kesan memamerkan kesuksesan yang sudah diperolehnya. hal ini juga yang membuat ia kini tetap aktif di dalam berbaai kegiatan sosial. Ia terus menerus memeprluas jaringan koleganya walaupun kini ia sudah menjadi pemimpin dibeberapa perusahaan ternama di indonesia. Hingga akhirnya ia bertemu dengan mantan prsideng Jusuf Kalla dan bekerja sama untuk mendirikan trans studio bandung yang kini sukses menyaingi keberadaan universal studio di singapura. Selain itu kini ia juga sukses dalam beberbagai usaha yang digelutinya ia dinobatka oleh majalah warta ekonomi sebagai salah seorang tokoh bisnis paling berpengaruh di tahun 2005 dan Dinobatkan sebagai salah satu orang terkaya di dunia tahun 2010 versi majalah Forbes dengan total kekayaan $1 Miliar.
Kesimpulan
Tokoh ct dapat dianalisis dengan mmenggunakan teori george kellykarena aanya kesesuaian antara teoi yang dikemukakan kelly tentang personal construknya ct. Selain itu adnya kemiripan uga antara Chairu tanjung yang berlatar belakang ilmu sains.
CT menggunakan konstruk-konstruk yang dimiliki untuk memahami dunia. Kemudian ia mengubah. Memodifikasi konstruk-konstruk yang dimilikinya. ct menggunakan construknya untuk mengantisipasi dan meramalkan masa depannya. adanya kesesuain antara konstruk sukses-tidak suksesnya CT dengan asumsi geoge kelly bahwa konstruk personal bersifat bipolar.setelah ia menentukkan konstruk sukses-tidak suksesnya kemudian CT menggunakan konstruk bipolar lain yang lebih spesifik untuk menentukan sejauhmana sukse-tidak suksesnya. Ia mengtatakan “Memang tidak jaminan, seseorang yang berkarier sesuai dengan latar belakang pendidikannya akan sukses. Kenyataannya tidak sedikit yang berhasil justru setelah mereka keluar dari jalur”. Ia berasumsi bahwa kesuksesan itu tidak harus sesuai dengan jalur pendidikan yang sudah ditempuh. Hal ini yang membuat CT pada akhirnya memilih untuk terjun kedunia usaha dibandingi menggeluti profesinya sebagai lulusan seorang dokter gigi.
Kelly menyatakan bahwa perbedaan dalam perilaku kita kebanyakan berasal dari perbedaan kita “mengkonstruk dunia”. Ha ini dapat dilihat dari kisah ct saat CT memutuskan untuk memilih mundur dari usaha produksi sepatu karena adannya perbedaa konstruk dengan tema-temannya. Hal ini juga menenkan pada adanya Individuality corollary: Manusia berbeda-beda dalam membuat konstruk atas peristiwa yang sama (tergantung interpretasi masing-masing). Adanya perbedaan individu, bagaimana individu menerima atau menginterpretasi suatu peristiwa.
walaupun usahanya itu selalu mengalami jatuh bangun ia tidak terpaku pada satu konstruk, ia menggunakan Choice corollary yaitu menurut Manusia memilih sendiri alternatif dari konstruk dikotomis tersebut berdasarkan keinginannya untuk memperjelas atau memperluas sistem konstruknya.(Security atau adventure). Diantara konstruknya yang selau diubah, dimodifikasi atau diubah, ada satu konstruk yang selalu stabil yaitu Ia memiliki konstruk bahwa memiliki mitra kerja yang handal, membangun kepercayaan adalah segala dalam berbisnis dan dalam menjalankan suatu pekerjaan. CT juga selalu tampil apa adanya tanpa adanya kesan memamerkan kesuksesan yang sudah diperolehnya. Hal inilah yang selalu ia pegang sampai pada ahirnya ia mendulang kesuksean dalam berbegai usaha yang digelutnya dan ia dinobatan oleh majalah warta ekonomi sebagai salah seorang tokoh bisnis paling berpengaruh di tahun 2005 dan Dinobatkan sebagai salah satu orang terkaya di dunia tahun 2010 versi majalah Forbes dengan total kekayaan $1 Miliar.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar